Inibekasi.com – Anggota DPR RI Komisi V, Sudjatmiko, mendesak percepatan evakuasi korban ambruknya musala Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo dengan penggunaan Mobile Crane guna mempercepat proses penyelamatan.
Desakan ini ia sampaikan dalam kapasitasnya sebagai mitra kerja Basarnas dan Kementerian Pekerjaan Umum pada Senin (30/9/2025) sore.
“Peristiwa tragis tersebut terjadi pada Senin sore dan menewaskan sedikitnya tiga orang serta melukai sejumlah santri,” kata Sudjatmiko dalam keterangan resminya.
Data pengelola pondok menyebutkan terdapat 140 santri pria di lokasi, dengan rincian 3 meninggal dunia, 102 berhasil dievakuasi, dan 38 santri lainnya masih terjebak di bawah reruntuhan.
Dalam sambungan telepon dengan Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR, Sudjatmiko menekankan pentingnya penggunaan alat berat yang lebih efektif.
“Setiap menit berharga. Kita tidak boleh membiarkan ada korban yang tertinggal di bawah reruntuhan. Semua potensi penyelamatan harus dimaksimalkan. Apa tidak mungkin mengerahkan Mobile Crane untuk mempercepat evakuasi, Bu?” tegas Sudjatmiko dalam percakapan tersebut.
Menurutnya, penggunaan Mobile Crane diyakini dapat membantu pengangkatan struktur bangunan yang rapuh dan mempercepat proses evakuasi.
“Hal ini sekaligus mengurangi risiko tambahan bagi tim penyelamat yang bekerja di bawah kondisi sulit,” ungkapnya.
Sudjatmiko juga meminta koordinasi maksimal antara Basarnas, TNI/Polri, Kementerian PUPR, serta relawan agar evakuasi berlangsung cepat, aman, dan terstruktur tanpa tumpang tindih tugas.
Ia menekankan pentingnya penyediaan alat berat tambahan, perlengkapan memadai, dan dukungan logistik di lapangan.
“Saya minta teman-teman bergerak cepat. Jika ada santri yang masih hidup di bawah reruntuhan, nyawa mereka bergantung pada kecepatan kita. Kita tidak boleh terlambat,” ujarnya.
Selain menyoroti percepatan evakuasi, Sudjatmiko mendesak pemerintah agar melakukan investigasi menyeluruh terhadap penyebab ambruknya bangunan musala tersebut.
“Setelah evakuasi selesai, harus ada penyelidikan tuntas agar kejadian serupa tidak terulang. Negara harus hadir, bukan hanya saat musibah, tetapi juga dalam pencegahan,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, proses evakuasi masih berlangsung dengan kondisi medan yang menantang akibat reruntuhan yang rapuh dan akses lokasi yang terbatas.
Sudjatmiko juga menegaskan keselamatan korban maupun tim penyelamat harus menjadi prioritas utama.
“Saya berharap semua elemen pemerintah pusat dan daerah segera mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia,” pungkasnya. (*)











