Inibekasi.com | Jatiasih–Suasana berbeda terlihat di ruang tahanan Polres Kota Bekasi pada Jumat (4/7). Di tengah keterbatasan fisik dan kebebasan, lantunan ayat-ayat suci dan tausiyah menyentuh hati menggema, membawa harapan baru bagi para penghuni tahanan. Khutbah Jumat kali ini disampaikan langsung oleh Ustadz H. Dimyati Uje, S.Pd.I, Ketua Pimpinan Cabang Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kecamatan Jatiasih yang juga sebagai Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Jatiasih Kota Bekasi.
Dalam khutbahnya yang berjudul “Bermuhasabah dan Kembali kepada Allah”, Ustadz Dimyati menekankan pentingnya kesadaran diri sebagai langkah awal menuju taubat. Menurutnya, taubat hanya mungkin dilakukan oleh orang yang sadar bahwa dirinya telah berbuat salah. Sebaliknya, bagi mereka yang merasa tak bersalah meskipun telah melakukan kesalahan, pintu taubat akan sulit terbuka.
“Setiap orang yang bersalah dan dia sadar telah berbuat salah, dia akan mudah bertaubat. Tapi sebaliknya, bagi orang yang berbuat salah namun tidak merasa bersalah, maka akan sulit untuk bertaubat,” ujar Ustadz Uje dengan nada lembut namun penuh ketegasan.
Dasar Al-Qur’an: Allah Mencintai yang Bertaubat
Pada khutbah kali ini, Ustadz Uje mendasarkan materinya pada firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 222: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”
“Ayat ini menjadi landasan kuat bahwa setiap manusia masih memiliki peluang untuk kembali kepada jalan yang lurus, asalkan ia bersungguh-sungguh dan mengikuti langkah-langkah taubat dengan benar,” tuturnya.
Empat Langkah Taubat yang Sejati
Lebih lanjut, Ustadz Uje menjabarkan empat langkah konkret dalam proses taubat:
1. Menyesali perbuatan buruk yang telah dilakukan.
2. Memohon maaf kepada pihak yang telah disakiti, dan memohon ampun kepada Allah SWT.
3. Berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
4. Mengganti perbuatan buruk dengan amal-amal kebaikan agar kebaikan itu mampu menghapus keburukan yang pernah terjadi.
“Kalau kita ingin benar-benar bertaubat, harus dimulai dari dalam hati yang menyesal. Kemudian sampaikan permintaan maaf, jangan gengsi. Allah Maha Pengampun, tapi syaratnya kita juga harus mau memperbaiki diri,” tambahnya.
Pelajaran dari Nabi Adam AS: Taubat Selama 40 Tahun
Dalam tausiyahnya, Ustadz Dimyati juga mengangkat kisah Nabi Adam AS sebagai cermin bagi para jamaah. Nabi pertama itu hanya melakukan satu kesalahan, yakni memakan buah kholdi yang dilarang, namun proses taubatnya berlangsung selama 40 tahun penuh penyesalan dan permohonan ampun.
“Bayangkan, Nabi Adam dosanya cuma satu, tapi beliau bertaubat selama 40 tahun. Kita manusia biasa yang mungkin melakukan banyak kesalahan, tentu harus lebih bersungguh-sungguh dalam memohon ampun kepada Allah,” ungkapnya, membuat sebagian jamaah terdiam merenung.
Di akhir khutbah, Ustadz Uje memimpin doa muhasabah yang dilantunkan dengan suara lirih dan penuh pengharapan. Para narapidana terlihat khusyuk dan mengikuti setiap bait doa, banyak di antara mereka yang menitikkan air mata.
Nasehat di Tengah Keterbatasan
Selesai khutbah, Ustadz Uje menyempatkan diri berdialog secara pribadi dengan beberapa tahanan. Ia menyampaikan nasihat agar mereka tetap sabar menjalani proses hukum dan tidak putus asa dalam menghadapi hidup.
“Jangan menyerah dengan keadaan. Allah itu Maha Membolak-balikkan hati. Siapa tahu, dari dalam jeruji ini, justru hidup kalian mulai berubah ke arah yang lebih baik,” katanya penuh harapan.
Membangun Harapan dari Balik Jeruji
Acara keagamaan seperti ini bukan pertama kali dilakukan, namun kehadiran tokoh masyarakat seperti Ustadz Dimyati Uje membawa suasana berbeda. Ia tak hanya hadir sebagai penceramah, namun juga sebagai sahabat dan pengingat yang tulus.
Program keagamaan semacam ini mendapat apresiasi dari para petugas dan narapidana karena dinilai mampu menumbuhkan semangat spiritual dan menjadi titik balik perubahan perilaku di lingkungan tahanan.[]











